Minggu, 16 Januari 2011

TEKNOLOGI BENIH (2)

PEYIMPANAN BENIH
 Tujuan Penyimpanan Benih

menjaga ketersediaan benih dengan kualitas tetap tinggi sebagai cadangan bahan tanam dari satu musim tanam ke musim tanam berikutnya atau keperluan pemuliaan tanaman.
Kemunduran benih adalah menurunnya kualitas benih yang menyebabkan daya hidup benih rendah dan jeleknya pertumbuhan dan hasil tanaman.
 Konsep Kemunduran Benih
 Proses yang tidak dapat dihindari
 Proses yang tidak dapat balik
 Bervariasi antar benih

 Daya simpan benih adalah jangka waktu yang dimiliki benih atau sejumlah benih untuk tetap memiliki kemampuan tumbuh menjadi tanaman normal.
 Daya simpan benih dipengaruhi :
 Genetik : jenis dan varietas
 Kualitas benih pada saat disimpan
 Lingkungan tempat penyimpanan : abiotik & biotik atau fisik dan biologi
 Lingkungan penyimpanan
Abiotik/Fisik : suhu,
kelembaban,
komposisi udara
Biotik/Biologi : hama
penyakit
 Tiga sifat non genetis yang mempengaruhi viabilitas benih selama benih disimpan :
 Benih melakukan respirasi
 Benih bersifat higroskopis
 Benih memiliki difusibilitas termal yang rendah.
 Rule of Thumb (Kaidah Harrington)
 Setiap penurunan kadar air benih 1% (kisaran 5-14%) akan memperpanjang daya simpan benih 2 kali.
 Setiap penurunan temperatur 5 C akan memperpanjang daya simpan benih 2 kali.







PROSESSING BENIH
Bagian dari keseluruhan rangkaian teknologi benih dalam usaha memproduksi benih bermutu tinggi


 SASARAN AKHIR
1. Memperoleh persentase benih murni (pure seed) maksimal.
2. Memperoleh potensial perkecambahan maksimal.
1 dan 2 Pure Live Seed percentage
 PENGERINGAN (DRYING)
Tujuan untuk menurunkan kadar air benih sampai pada nilai yang aman
 Fungsi pengeringan benih
 Membatasi pernafasan benih
 Mencegah timbulnya hot spot
 Menghindarkan benih dari serangan organisme
 Menghindarkan benih dari kerusakan mekanis pada saat prosessing berikutnya
 Mengurangi bahaya bagi benih akibat fumigasi
 Mencegah penggumpalan-penggumpalan benih
 KETERIKATAN AIR DALAM BENIH
1. Air yang terikat secara kimiawi
2. Air yang terikat secara fisik
 Evaporasi sebagai Dasar Pengeringan Benih
Benih merupakan material yang bersifat higroskopis → kadar air tergantung pada kelembaban relatif dan temperatur udara.
Kondisi tekanan uap air di dalam dan di luar benih :
a. Absorbsi
b. Desorbsi
c. Moisture equilibrium content
Laju pengeringan tergantung pada :
1. Temperatur
2. Struktur benih
3. Komposisi kimia benih
4. Permeabilitas benih.
 Metode Pengeringan Benih
 Pengeringan secara alami (natural drying)
 Pengeringan buatan (artificial drying)
 Pengeringan Alami

Perlu penanganan aktif, untuk menghindari :
a. Pengaruh suhu yang tinggi
b. Pengeringan tidak merata
c. Kulit benih pecah-pecah.
 Pengeringan Buatan
Pengeringan dengan mesin/alat dapat dilakukan, apabila :
a. Mencapai maksud pengeringan sesuai
yang diharapkan;
b. Tercapai pengeringan tanpa tergantung
pada kondisi cuaca;
c. Kualitas benih terjaga.

















 PEMBERSIHAN (CLEANING)
 Pembersihan Manual
 Membersihkan benda atau kotoran yang ringan F gerakan penampi naik turun.
 Membersihkan benda atau kotoran agak berat F gerakan penampi memutar
 Membersihkan benda atau kotoran berat atau besar F gerakan penampi memutar tetapi posisi penampi agak dimiringkan
 Pembersihan dengan Mesin
 Untuk meningkatkan efisiensi pembersihan dilakukan prapembersihan (precleaning) yaitu :
Scalping : pembersihan benih dari kotoran kasar F scalper
Hulling : pembersihan benih dengan menghilangkan bagian-bagian yang masih menempel pada benih F huller-scarifier
Shelling : pembersihan benih dari lendir kering, kulit ari ataupun rambut-rambut yang menempel pada permukaan benih F debearder
 Pembersihan benih F alat yang paling umum AIR SCREEN MACHINE atau FANNING MILL
 Alat ini F kombinasi aliran udara (fan) dan ayakan sehingga mampu memisahkan benih dengan kotoran berdasarkan ukuran, resistensi terhadap aliran udara, spesific gravity.
 Pemilahan
 Proses pemilahan secara mekanis dapat dilakukan hanya jika ada perbedaan sifat-sifat fisik yang dapat dideteksi oleh mesin.
 Sifat-sifat fisik : panjang, lebar, ketebalan, bobot (specific gravity), tekstur permukaan, warna.
 PERLAKUAN BENIH
(SEED TREATMENT)
 Tujuan F mencegah atau melindungi benih dari serangan patogen terbawa benih dan/atau patogen yang berasal dari tanah.
 Jenis perlakuan benih :
Disinfeksi benih
Disinfestasi benih
Proteksi benih
 Syarat pestisida yang baik untuk perlakuan benih
 Efektif untuk pencegahan penyakit
 Tidak membahayakan viabilitas benih
 Bersifat stabil dalam benih, kemasan, dan tanah
 Tidak bersifat korosif
 Murah dan mudah aplikasinya
 Tidak membahayakan pemakai
 Tidak menurunkan pengaruh inokulan


PRODUKSI BENIH
PRINSIP AGRONOMIK
PRINSIP AGRONOMIK
Budidaya tanaman untuk produksi benih = produksi biji untuk konsumsi
Secara agronomik produksi benih melaksanakan hal-hal :
F pemilihan dan penyiapan lahan
F penumbuhan tanaman
F pemanenan tanaman
F penanganan benih agar siap salur
PEMILIHAN DAN PENYIAPAN LAHAN
Pemilihan Lahan
Perlu dipertimbangkan hal-hal sbb :
J adaptasi tanaman/varietas
J sejarah pertanaman sebelumnya
J rotasi tanaman
J kemudahan tempat bagi jaringan transportasi antar wilayah
Penyiapan Lahan
Pembersihan
Perataan
Pembuatan saluran irigasi dan drainase
Pemberian bahan organik
Pemupukan
Penumbuhan Tanaman
Penanaman
Kebutuhan benih dipengaruhi oleh
M jarak tanam atau populasi tanaman/hektar
M ukuran atau bobot benih per 100 (1000) butir
M daya berkecambah (tumbuh) benih
Pemeliharaan
Pemeliharaan tetap diberikan terhadap tanaman meskipun fase masak untuk tujuan produksi non benih telah tercapai.

Pemeliharaan
Penjarangan
Pendangiran
Pemupukan
Pengairan/penyiraman
Penyiangan
Pengendalian hama dan penyakit
Pemanenan
Saat tepat F masak fisiologis
Keuntungan :
J benih belum mengalami kemunduran
J mempercepat program pemuliaan tanaman
J menghemat waktu dan mengurangi kehilangan benih di lahan
J perkecambahan benih di lapang dapat dihindari
Resiko penundaan waktu panen
1. Menurunkan mutu biji
2. Menurunkan hasil (yield)
3. Kerusakan biji oleh fungi atau hama
4. Kerontokan biji (shattering)
5. Kerebahan (lodging)








 BAHAN TANAM
 PEMILIHAN KOMODITAS
Disamping faktor agroklimat, beberapa persyaratan yang seharusnya dipenuhi dalam pemilihan jenis komoditi antara lain komoditi tersebut hendaknya:
(1). Mempunyai peranan yang strategis sebagai sumber pendapatan masyarakat,
(2). Mempunyai prospek pasar yang baik,
(3). Mampu menyerap tenaga kerja,
(4). Mempunyai peranan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.




 Benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau mengembangbiakkan tanaman (UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman).
 Varietas adalah bagian dari suatu jenis yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan, daun, bunga, buah, biji, dan sifat-sifat lain yang dapat dibedakan dalam jenis yang sama.
 Varietas Unggul
 Menentukan tingkat produktivitas
 Komponen teknologi yang relatif mudah diadopsi petani jika benihnya tersedia
 Varietas unggul beberapa tanaman :
padi : 54 varietas
kedelai : 70 varietas
kacang tanah : 31 varietas
ubi kayu : 10 varietas
ubi jalar : 10 varietas
 Benih Bermutu
 Mutu Genetik
 Mutu Fisiologi
 Mutu Fisik


 Pengaruh bahan tanam terhadap
pola pertumbuhan dan produksi ubi kayu
 bagian-bagian dari batang yang dipakai untuk setek sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi umbi dibandingkan dengan umur tanaman pada saat batang yang akan digunakan stek diambil.
 produksi umbi yang dihasilkan oleh setek yang berasal dari batang bagian bawah 6,4% dan 12,7% lebih besar daripada setek yang berasal dari batang bagian tengah dan atas.
 umbi yang dihasilkan oleh setek yang berasal dari batang bagian bawah berukuran 4,1% dan 11,9% lebih besar, dibanding dengan umbi yang dihasilkan oleh setek batang bagian tengah dan atas.
 setek berdiameter 2.25 - 2.50 cm menghasilkan produksi umbi yang tertinggi dibandingkan dengan setek yang berdiameter lebih kecil dari 2.25 cm dan lebih besar dari 2.50 cm.
 setek dengan panjang 25 cm menghasilkan produksi umbi dan laju pertumbuhan umbi yang lebih besar dibandingkan dengan setek yang lebih pendek maupun lebih panjang.
 PERSIAPAN BENIH
 Untuk mendapatkan hasil tinggi digunakan benih bermutu varietas unggul.
 Keperluan benih tiap hektar ditentukan oleh :
- jarak tanam atau populasi tanam per hektar
- ukuran biji (bobot 100 biji)
- daya tumbuh benih
Perkiraan kebutuhan benih per hektar :
100 100 100 s
B = 10.000 x ------ x ------ x ------ x ------ x t x 1 g
p q r 100

 SERTIFIKASI BENIH
 Proses pemberian sertifikat benih tanaman setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan serta memenuhi semua persyaratan untuk diedarkan.
 Benih bersertifikat

benih yang dalam proses produksinya diterapkan cara-cara dan persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan sertifikasi benih
 Tujuan Sertifikasi
 menjaga kemurnian varietas,
 memelihara kualitas benih,
 memberikan jaminan mutu benih kepada konsumen dan
 memberikan legalitas kepada produsen benih



 Syarat-syarat penangkar benih
 Pengetahuan yang cukup tentang cara memproduksi benih bermutu dan cara menyimpan benih.
 Penguasaan lahan, fasilitas pengolahan, dan penyimpanan benih.
 Memiliki sikap jujur dan bersedia selalu mematuhi peraturan/ketentuan perbenihan yang berlaku.
 Prosedur untuk memperoleh sertifikasi
 Permohonan sertifikasi
 Pemeriksaan pendahuluan
 Pemeriksaan lapangan
 Pemeriksaan alat-alat panen dan pengolahan
 Pengambilan contoh benih
 Pengujian laboratorium
 Pemasangan label
 1. Permohonan sertifikasi
 Disampaikan ke BPSB paling lambat 1 bulan sebelum tanam (tebar).
 Mengisi formulir yang berisi tentang :
- nama & alamat pemohon
- letak areal
- asal benih sumber
- rencana penanaman
- sejarah lahan
- isolasi yang diterapkan
 Formulir dilampiri label benih dan denah lahan
 2. Pemeriksaan pendahuluan
 Pengajuan paling lambat 10 hari sebelum tanam atau satu minggu sebelum pemeriksaan lapangan.
 Hasil pemeriksaan dapat diputuskan :

- menolak permohonan sertifikasi;
- menerima permohonan dengan catatan;
- menerima permohonan.
 3. Pemeriksaan Fase Vegetatif
 Pemeriksaan dilakukan pada fase pertumbuhan vegetatif (30 HST).
 Pemeriksaan akan dilakukan terhadap keberadaan campuran varietas lain (CVL).
 Sebelumnya penangkar benih sebaiknya melakukan roguing.
 Hasil pemeriksaan :
- Lulus
- Tidak lulus → roguing ulang → pemeriksaan
ulang
 4. Pemeriksaan Fase Generatif
 Dilakukan bila telah lulus tahapan pemeriksaan sebelumnya.
 Pemeriksaan terhadap keberadaan CVL dengan pengamatan pada organ reproduktif seperti
- warna dan bentuk bunga
- saat pembungaan
 5. Pemeriksaan Fase Menjelang Panen
 Pemeriksaan dilakukan apabila telah lulus pemeriksaan lapangan sebelumnya.
 Pemeriksaan dilakukan 1 pekan sebelum panen (menjelang masak fisiologis).
 Komponen yang diamati :
- warna & bentuk tongkol
- warna & bentuk polong
- warna & bentuk benih
 Tidak ada pemeriksaan ulang.
 6. Pemeriksaan alat panen & pengolahan
 Tujuan : untuk memastikan bahwa peralatan yang digunakan dalam pemanenan dan pengolahan benih tidak membawa sumber kontaminan.
 Pemeriksaan dengan cara menjalankan (menghidupkan) semua alat pengolahan benih.
 7. Pengawasan Pengolahan Benih
 Pengawasan langsung oleh petugas BPSB secara periodik selama masa pengolahan benih dengan waktu yang tidak diberitahukan kepada penangkar.
 Tujuan : memastikan bahwa selama dalam pengolahan tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang dilakukan penangkar.
 8. Pengambilan contoh benih
 Dilakukan setelah proses pengolahan benih.
 Benih telah dikemas dengan kemasan curah.
 Benih dikelompokkan berdasarkan lot yang tepat.
 Setiap lot benih memiliki peluang yang sama untuk diambil contoh benihnya.
 9. Pengujian Benih
 Ilmu mengevaluasi kualitas benih
 Tujuan

mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih, yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih
 9. Pengujian Mutu Benih
 Pengujian rutin :
- Daya berkecambah benih
- Kadar air benih
- Kemurnian benih
 Pengujian khusus :
- Vigor benih
- Kesehatan benih
 10. Permohonan pemasangan label
 Jika pengujian laboratorium dinyatakan lulus, penangkar mengajukan permohonan pemasangan label pada benih-benih yang akan dikemas untuk dipasarkan.
 Penangkar mengajukan permohonan nomor seri label sertifikasi dengan mencantumkan : jumlah segel & label yang diperlukan, nomor pengujian, nomor kelompok benih, jenis, varietas, jumlah wadah, berat bersih tiap wadah, nama & alamat produsen.
 Isi label : nilai kadar air benih, daya berkecambah, nilai kemurnian, dan identitas lain sesuai yang diajukan penangkar.


MODEL PENYIMPANAN
Ada tiga model penyimpanan benih
Penyimpanan Terkendali (Conditioned Storage)
Penyimpanan dengan Pengemasan
Penyimpanan benih dikemas dan kelembaban terkendali
Empat faktor untuk mengevaluasi nilai ekonomis penyimpanan benih
Benih yang disimpan
Lama penyimpanan
Kualitas awal benih yang disimpan
Berkurangnya bobot benih selama penyimpanan
Penyimpanan Terkendali
Syarat → lingkungan penyimpanan kering dan dingin.
Cara → temperatur dan kelembaban relatif ruang simpan dikendalikan/diatur.
Contoh :
Penyimpanan benih serealia
Periode singkat : KA 12-13%, suhu kamar
Periode panjang : KA < 11%, suhu < 20 C
Lanjutan…
Penyimpanan benih legum
Periode singkat : KA 10-11%, suhu kamar
Periode panjang : KA < 10%, suhu < 20 C
Penyimpanan dengan Pengemasan
Wadah/bahan kemasan memenuhi syarat :
1. Kuat, tidak mudah robek dan rusak.
2. Mampu menjaga kadar air benih pada nilai yang aman.
3. Untuk penyimpanan jangka panjang wadah kedap air atau kedap udara.
Tipe wadah/bahan pengemas
Sarang sempurna
Resisten terhadap perubahan kelembaban sekitarnya.
Kedap uap air.
Wadah/kemasan yang dipilih tergantung pada
Jenis benih
Jumlah benih
Lama penyimpanan
Temperatur dan kelembaban tempat penyimpanan
Penyimpanan benih dikemas dan kelembaban terkendali


Benih dikemas rapat dan kelembaban dikendalikan dengan dessicant (bahan kimia pengering) yang telah diketahui nilai keseimbangan airnya, misal larutan garam jenuh, silica gel-kobalklorida, larutan asam jenuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar