AGROTEKNOLOGI

Fisiologi Tumbuhan

product

^_^

fisiologi | Hormon

Berbagi Ilmu

product

^_^

Detail | Add to cart

Ilmu Alam

product

^_^

Detail | Add to cart

Benih.padi,jagung, dan klonal.


produksi benih padi.

Persyaratan Lahan
• Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan
yang diberakan.
• Lahan dapat bekas tanaman padi tetapi varietas yang
ditanam sama, jika lahan bekas varietas lain hendaknya
yang mudah dibedakan dengan varietas yang akan ditanam.
• Ketinggian lahan disesuaikan dengan adaptasi tanaman.
• Lahan relatif subur, pH 5,4 – 6,0 dan memiliki lapisan keras
sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering.

Persemaian
• Ukuran petak persemaian umumnya 5% dari luas lahan
penanaman, dengan ukuran lebar 1,2 – 1,5 m, ketinggian
15 – 20 cm, dan jarak antar petak persemaian 30 cm.
• Pemupukan petak semai yakni 20 g Urea + 10 g TSP + 6 g
KCl per m2.
• Benih sebelum disemai direndam selama 24 jam dan
diperam dalam media yang lembab selama 24 jam.
• Setelah diperam benih disebar merata di petak
persemaian, kira-kira 70 g pe meter, selanjutnya
permukaan lahan ditutup dengan jerami.
• Kondisi petak persemaian dipertahankan dalam kondisi
macak-macak.

Penyiapan Lahan Penanaman
• Tanaman padi lazimnya dibuahi sendiri, penyerbukan silang
dapat terjadi pada kisaran 0,1 – 4,0%. Untuk produksi benih
isolasi jarak minimal 3 m atau isolasi waktu 30 hari.
• Tanaman padi menghendaki tanah sawah yang berstruktur
lumpur dengan kedalaman 15 – 30 cm, yang dapat diperoleh
dengan cara :
a. Perendaman I selama 3-4 hari diikuti pembajakan ke-1
b. Perendaman II selama 2-3 hari diikuti pembajakan ke-2
c. Perendaman III selama 2-3 hari diikuti penggaruan ke-1
d. Perendaman IV selama 2-3 hari diikuti penggaruan ke-2
sambil meratakan permukaan lahan

Penanaman
• Jarak tanam dibuat 22 cm x 22 cm penanaman pada
musim kemarau atau 30 cm x 15 cm penanaman pada
musim hujan,
• Bibit padi siap pindah tanam pada umur 21 – 25 hari, dipilih
bibit yang sehat dan vigor.
• Penanaman sebanyak 2-3 bibit per rumpun dengan
kedalaman tanam 2-3 cm.
• Bibit yang tersisa dapat digunakan untuk penyulaman,
biasanya dilakukan pada umur 7 – 10 HST.

Pemupukan
• Pupuk yang digunakan adalah Urea 300 kg/ha, TSP 200
kg/ha dan KCl 100 kg/ha.
• Sepertiga bagian Urea + TSP + KCl diberikan saat tanam.
• Pemupukan susulan I diberikan 3-4 MST dengan 1/3
bagian Urea dan pemupukan susulan II diberikan 7 MST
dengan 1/3 bagian Urea.
• Pada saat pemupukan, kondisi tanah dibuat macak-macak
dan dibiarkan selama 3 hari.

Pemeliharaan
• Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 21 dan 45
HST. Bila dibutuhkan penyiangan dilakukan lagi ada umur 50-60
HST.
Penyiangan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan
pemupukan susulan untuk efisiensi waktu dan efektivitas
pemupukan.
• Pengairan
Pada awal fase pertumbuhan, pengairan sedikit demi sedikit
hingga air mencapai 7-10 cm.
Pada fase pembentukan anakan genangan air dipertahankan 3-
5 cm.

Roguing
• Biasanya dilakukan sebelum tanaman diperiksa oleh
petugas BPSB.
• Minimal dilakukan 3 kali, yaitu pada fase vegetatif, fase
berbunga, dan pada saat menjelang panen atau ± 80%
malai sudah menguning.
• Roguing I
Dilakukan pada fase vegetatif (30 HST).
• Roguing II
Dilakukan pada fase berbunga (50 HST)
• Roguing III
Dilakukan pada saat menjelang panen (100 HST).

Pemanenan
• Dilakukan setelah pemeriksaan lapangan terakhir dan telah
dinyatakan lulus oleh BPSB.
• Waktu panen ketika umur berbunga telah mencapai
maksimal, yang ditandai oleh :
- sebagian besar (80-90%) malai telah menguning,
- kadar air benih sekitar 17-23%,
- gabah sudah menguning dan keras bila dipijat,
- buku-buku bagian atas berwarna kuning,
- batang mulai mengering.

• Cara panen, dapat dilakukan dengan
menggunakan sabit, ani-ani atau mesin
pemanenan (combine harvester).
• Jika pemanenan menggunakan mesin, kadar air
benih sebaiknya lebih rendah yaitu 15-20%.
• Malai hijau tidak ikut dipanen karena akan
meningkatkan nilai bulir hijau.

Penanganan Pascapanen
1. Perontokan
- Biasanya dilakukan langsung di sawah.
- Perontokan dapat dilakukan dengan cara :
> malai padi dipukul-pukulkan pada papan perontok
yang terbuat dari kayu.
> malai dipukul-pukul dengan penggebuk terbuat
dari kayu sambil dibalik-balik.
> perontokan menggunakan alat perontok
(thresher).

2. Pengeringan
- Pengeringan dilakukan segera setelah calon
benih dirontokkan.
- Jika kondisi tidak memungkinkan maka calon
benih harus dihamparkan dan dianginanginkan.
- Pengeringan secara alami (natural drying)
dengan cara menjemur calon benih di lantai
penjemuran.
- Pengeringan dapat pula dilakukan secara
mekanis (artificial drying) dengan alat
pengering (box dryer).

3. Pengolahan
- Calon benih yang telah kering (kadar air 11-
12%), dibersihkan dari kotoran campuran
varietas lain, biji gulma, dan kotoran non biji.
- Pembersihan dapat dilakukan dengan nyiru
atau mesin pembersih (air screen cleaner).
- Selain pembersihan, calon benih dapat dipilah
(upgrading) berdasarkan panjang atau
ketebalan.

Penyimpanan
• Benih yang sudah kering dan bersih dikemas dalam karung
atau kemasan kantung plastik siap salur kemudian
disimpan di rung penyimpanan.
• Ruang penyimpanan benih diusahakan dilengkapi ventilasi
yang baik.
• Benih dala karung dapat ditumpuk dan antara tumpukan
karung diberi jarak, untuk memudahkan pemeriksaan atau
pengontrolan.
• Bagian bawah tumpukan karung diberi alas berupa
potongan kayu (balok).
• Masa penyimpanan benih hendaknya memperhatikan
masa berlakunya label benih.


PRODUKSI BENIH SUMBER
JAGUNG BERSARI BEBAS (KOMPOSIT)

VARIETAS JAGUNG
• Varietas jagung berdasarkan genotipenya digolongkan
menjadi 2 (dua) :
a. Varietas bersari bebas (VBB)
- Dicirikan adanya penyerbukan acak (random mating) antar
tanaman dalam varietas, sehingga merupakan suatu populasi.
- Varietas bersari bebas dibentuk dari beberapa galur murni atau
berbagai plasma nutfah.
- Keseragaman varietas bersari bebas (komposit) hanya dalam
beberapa karakter karena banyak gen belum mencapai fiksasi.
Contoh: Arjuna, Bisma, Lagaligo, Lamuru, Kresna, Gumarang,
Sukmaraga, Srikandi Putih-1, Srikandi Kuning-1, Anoman, dll.

b. Varietas hibrida
- F1 persilangan antara dua tetua, tetua dapat berupa galur murni,
hibrida silang tunggal dan varietas atau populasi bersari bebas.
- Tetua hibrida biasa disebut materi induk (parent stock).
Contoh : Semar-10, Bima-1, Bima-2 Bantimurung, Bima-3
Bantimurung, Bisi 2, NK11, NK55, NK33, C7, P11, dsb.

Dalam memproduksi benih jagung bersari bebas, ada dua aspek penting
yang perlu mendapat perhatian yaitu :
• Standar lapangan:
- Isolasi jarak 300 m atau
isolasi waktu 30 hari
- Campuran varietas lain (CVL)
maksimum 2% untuk benih
dasar dan benih pokok,
sedangkan untuk benih sebar
3%.
• Standar laboratorium:
- Kadar air maksimum 12%,
- Benih murni minimum 98%,
- Kotoran benih maksimum 2%
- CVL maksimum 0% untuk benih
dasar, 0,1% untuk benih pokok, dan
1,0% untuk benih sebar
- Biji tanaman lain 0,5% untuk benih
dasar dan benih pokok, 1,0% untuk
benih sebar
- Daya berkecambah minimum 80%.


PERSYARATAN DALAM PRODUKSI BENIH SUMBER
• Sebelum melakukan penanaman, terlebih dahulu penangkar benih
mengajukan permohonan ke BPSB setempat dengan mengisi
formulir yang telah disediakan.
• Setelah lokasi ditinjau oleh BPSB dan mendapat persetujuan, baru
dilakukan persiapan untuk penanaman.
• Setelah tanam, diinformasikan ulang ke BPSB untuk penyampaian
bahwa penanaman telah dilakukan (tanggal tanam).
• Selama pertumbuhan tanaman, BPSB akan melakukan inspeksi
lapangan untuk menilai kelayakan dan melakukan pencabutan
tanaman yang menyimpang.


• Penanaman untuk memproduksi benih jagung sebaiknya dilakukan
pada saat menjelang akhir musim hujan sehingga diharapkan saat
panen pada musim kemarau (kualitas benih yang akan dihasilkan
lebih berkualitas dan biaya produksi lebih efisien).
• Penempatan lokasi untuk penanaman suatu varietas harus terisolasi
(untuk mencegah terjadinya pembungaan yang bersamaan dan
persilangan).
• Sekitar lokasi penangkaran benih sebaiknya tersedia sumber air
yang cukup dan mudah diakses.
• Fasilitas untuk penanganan pascapanen harus tersedia dan
memenuhi standar minimal (lantai jemur/pengering, pemipil,
pengukur kadar air, alat pengemasan produk, dan gudang
penyimpanan produk benih).

BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH SUMBER
• Teknik produksi benih jagung umumnya hampir sama dengan teknik
produksi jagung secara komersial, walaupun ada beberapa
tambahan kebutuhan yang unik untuk memproduksi benih.
1. Kualitas benih, harus lebih baik daripada kualitas biji.
2. Kesuburan lahan lebih seragam untuk memudahkan seleksi dan
rouging terhadap tipe galur yang menyimpang (offtype).
3. Fasilitas pendukung mudah tersedia saat dibutuhkan, seperti tenaga
kerja untuk pemotongan bunga jantan (detasseling), perawatan,
panen, dan pascapanen.

Penyiapan Lahan & Pengolahan Tanah
• Penyiapan lahan yang baik merupakan salah satu faktor yang dapat memberikan lingkungan tumbuh tanaman dengan baik dan mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
• Jika memungkinkan lahan sudah disiapkan minimal dua minggu sebelum tanam.
• Penyiapan lahan :Lahan dibersihkan dari sisasisa tanaman sebelumnya terutama jika pertanaman
sebelumnya adalah jagung. Jika gulma dapat menggangggu pengolahan tanah dapat diberikan
herbisida kontak untuk mempercepat pengolahan tanah.

• Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan bajak (2 kali) dan diikuti dengan
garu/sisir sampai tanah tidak berbongkah-bongkah dan rata.

Benih
• Jumlah benih yang diperlukan
berkisar antara 15-20 kg/ha tergantung dari ukuran benih.
• Daya kecambah benih harus lebih dari 95% (3 hari saat
pengujian kecambah).
• Sebelum benih ditanam, untuk
menghindari serangan penyakit bulai diberi seed treatment terlebih dahulu
yaitu dengan 2 g metalaksil (produk) per 1 kg benih.

Penanaman
• Buat lubang tanam dengan menggunakan tugal dan
agar per-tanaman lurus gunakan bantuan tali jarak tanam yang sudah diberi tanda setiap 20 cm.
• Jarak tanam antar barisan 75 cm.
• Jarak tanam dalam barisan 20 cm
• Pembuatan lubang tanam jangan terlalu dalam ± 5
cm, setiap lubang tanam diisi dengan 1 biji dan lubang ditutup dengan tanah
 atau 1 genggam pupuk kandang
(± 1,5 -2,0 t/ha).

• Dalam budidaya produksi
benih jagung tidak dianjurkan melakukan penyulaman untuk benih-benih yang
tidak tumbuh dengan penanaman benih baru, hal ini akan menyebabkan bervariasinya
pertumbuhan tanaman dan tongkol tidak terisi penuh.

PRODUKSI BENIH JAGUNG

Penanaman
• Buat lubang tanam dengan menggunakan tugal dan agar per-tanaman lurus gunakan
bantuan tali jarak
tanam yang sudah diberi tanda setiap 20 cm.
• Jarak tanam antar barisan 75 cm.
• Jarak tanam dalam barisan 20 cm
• Pembuatan lubang tanam jangan terlalu dalam ± 5
cm, setiap lubang tanam diisi dengan 1 biji dan lubang
ditutup dengan tanah atau 1 genggam pupuk kandang
(± 1,5 -2,0 t/ha).

. Pada lahan datar, baris tanaman dibuat searah
dengan arah sinar matahari, tetapi pada lahan
miring disesuaikan dengan kontur lereng.

PEMUPUKAN
• Pemupukan diberikan
sebanyak 3 kali dengan perbandingan takaran dan waktu aplikasi
seperti yang disajikan dalam tabel disamping.
• Sebelum pupuk diaplikasikan,
untuk pemberian 7-10 hst pupuk (sesuai takaran) dicampur secara merata dan
buatkan takaran untuk pemberian setiap tanaman sehingga jumlah pupuk yang diberikan
sama untuk setiap tanaman agar pertumbuhan tanaman merata.
Jenis pupuk (kg/ha)
%-tase takaran (hst)
7-10 25-30 40-45
Urea (300-500) 30 40 30
SP-36 (200) 100 - -
KCl (100) 50 50 -
ZA*) (50) 100
- -
*)Diberikan jika memang diperlukan, terutama
pada lahan yang tanahnya kekurangan unsur
belerang.
Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan
dengan kondisi ketersediaan hara dalam tanah,
namun persentase jumlah pupuk yang diberikan
untuk setiap waktu aplikasi disesuaikan
seperti pada tabel di atas.

• Untuk penempatan pupuk,
buat lubang dengan tugal di
samping tanaman dengan
jarak ± 5 - 7 cm dari
tanaman. Masukkan pupuk
sesuai takaran yang telah
ditentukan dan tutup
dengan tanah. Demikian
halnya untuk saat
pemberian 25 - 30 hst dan
40 - 45 hst lakukan hal
yang sama.

PENYIANGAN & PEMBUMBUNAN
• Penyiangan pertama yang diikuti dengan
pembumbunan dilakukan saat tanaman berumur
15-20 hari setelah tanam (hst).
• Penyiangan kedua dilakukan sesuai dengan
kondisi pertumbuhan gulma di lapangan. Pada
umumnya diberikan pada saat tanaman menjelang
berbunga.


PENGENDALIAN HAMA
• Untuk mencegah serangan lalat bibit, ke setiap lubang
tanam dimasukkan insektisida carbofuran dengan
takaran 10 kg/ha atau 3-4 butir/lubang.
• Jika ada gejala serangan penggerek batang dapat
diberikan insektisida Carbofuran melalui pucuk dengan
takaran 10 kg/ha carbofuran (3 - 4 butir carbofuran
ditaburkan ke pucuk tanaman).
• Tanaman yang mengalami serangan berat disemprot
dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran.

• Masa kritis tanaman terhadap ketersediaan air adalah di awal
pertumbuhan dan pada saat tanaman menjelang berbunga
sampai fase pengisian biji.
• Linsley dan Fransini (1986) membagi metode pemberian air bagi tanaman
jagung ke dalam lima metode yaitu:
1. model genangan
2. model alur (furrow)
3. model bawah permukaan (sub surface)
4. model pancaran (sprinkler)
5. model tetes (drip)

SELEKSI TIPE SIMPANG (ROGUING)
• Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin mutu genetik dan
fisiologis benih yang dihasilkan.
• Untuk mengeliminasi tanaman yang menyimpang dari
tipe rata-rata dan yang tertular penyakit berdasarkan
hasil pengamatan secara visual, lakukan pencabutan
(roguing).
• Fase-fase pertumbuhan tanaman yang perlu mendapat
perhatian untuk melakukan roguing dapat dilihat pada
Tabel berikut :

PANEN
• Panen dapat dilakukan setelah masak fisiologis
atau kelobot telah mengering berwarna
kecoklatan (biji telahnmengeras dan telah mulai
membentuk lapisan hitam/black layer minimal
50% di setiap barisan biji).
• Biasanya kadar air biji telah mencapai kurang
dari 30%.
Misal : varietas Bisma biasanya pada umur 100-105 hari dan
varietas Lamuru pada umur 95-100 hari.
• Kalau memungkinkan, seminggu sebelum panen, klobot
dibuka sehingga kering di lapangan.
• Pada saat panen, tongkol yang terinfeksi penyakit dipisahkan supaya
tidak menulari tongkol yang sehat.


PENGOLAHAN (PROCESSING)
• Semua tongkol yang telah lolos seleksi pertanaman di
lapangan dipanen, kemudian dijemur diterik matahari sampai
kering (kadar air < 16%) sambil dilakukan seleksi tongkol
(tongkol yang memenuhi kriteria diproses lebih lanjut untuk
dijadikan benih).
• Selanjutnya jagung dipipil dengan mesin pemipil dengan kecepatan sedang
agar biji tidak retak/pecah.
• Setelah biji terpipil, dilakukan sortasi biji dengan
menggunakan saringan/ayakan Ø 7 mm (untuk varietas
Lamuru) atau ukuran ayakan disesuaikan dengan ukuran biji
dari setiap varietas, biji-biji yang tidak lolos saringan/ ayakan
dijadikan sebagai benih.

• Biji-biji yang terpilih sebagai benih dijemur kembali diterik
matahari atau dikeringkan dengan alat pengering (untuk
mempercepat proses pengeringan) sampai kadar air mencapai
10-12%.
• Sebelum benih dikemas dalam kemasan plastik perlu
dilakukan uji daya berkecambah. Benih dikemas secepatnya
ke dalam kantong plastik putih buram (bukan transparan)
dengan ketebalan 0,2 mm dan dipres (usahakan udara dalam
plastik seminimal mungkin).
• Selama proses pascapanen (prosesing), mulai saat panen
sampai pengemasan benih, dianjurkan tidak lebih dari 10
hari.


Klonal


PERBANYAKAN BENIH BUAH-BUAHAN BERMUTU DENGAN SISTEM KLONAL

   Didalam sistem dan usaha agribisnis hortikultura, benih berperan sebagai  “delivery mechanism” yang menyalurkan keunggulan teknologi kepada pengguna.  Untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dari varietas unggul, yaitu benih yang mampu mengekpresikan sifat-sifat unggul dari varietas yang diwakilinya.  Mengingat pentingnya arti benih dalam kegiatan agribisnis hortikultura, maka diperlukan upaya peningkatan inovasi untuk memperbesar pasokan (ketersediaan) benih, memperbaiki sistem distribusi dan meningkatkan penggunaan benih bermutu, di kalangan petani melalui kegiatan pembinaan, penyuluhan dan promosi.

Peningkatan kualitas buah-buahan melalui penyediaan varietas unggul berawal dari penyediaan benih secara klonal yaitu sumber bahan perbanyakan berasal dari satu pohon induk yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul.  

Perbanyakan benih dengan sistem klonal ini mengikuti alur : Benih yang ditanam dalam Blok Fondasi (BF) adalah turunan pertama dari Pohon Induk Tunggal (PIT) sedangkan benih yang akan ditanam dalam Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) merupakan turunan pertama dari pertanaman yang ada di BF.  Sedangkan Blok Perbanyakan Benih (BPB) adalah keturunan dari BPMT.

PERBANYAKAN BENIH SISTEM KLONAL
Mekanisme perbanyakan benih tanaman buah-buahan sistem klonal yang dilaksanakan dengan pola Blok Fondasi, Blok Penggandaan Mata Tempel dan Perbanyakan Benih, adalah sebagai berikut :
1. Pohon Induk Tunggal (PIT)
- Merupakan sumber utama perbanyakan benih buah-buahan;
- PIT adalah tanaman yang telah diketahui keunggulannya dan telah dilepas sebagai benih unggul oleh Menteri Pertanian.
2. Blok Fondasi (BF)
- Merupakan lahan pertanaman benih buah-buahan yang berasal dari Pohon Induk Tunggal (PIT);
- Blok Fondasi dapat terdiri dari lebih satu jenis dan lebih dari satu varietas;
- BF diatur dalam sub blok jenis dan sub-sub blok varietas
- Budidaya tanaman pada BF disesuaikan dengan rekomendasi sehingga pertanaman dalam BF akan dapat menghasilkan mata tempel yang optimal;
- Selain untuk menghasilkan mata tempel tanaman pada BF dapat pula sebagai tanaman produksi;
- Kebenaran varietas yang ditanam dalam BF ditunjukkan atas`dasar label yang dikeluarkan lembaga/instansi yang menangani Pengawasan dan Sertifikasi Benih sesuai dengan kebenaran pohon induknya yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian;
- Mata tempel/sambung yang dihasilkan/dikeluarkan dari BF diberi label berwarna putih, dengan kode sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT)
- Merupakan pertanaman benih buah-buahan yang mata tempel/sambungnya hanya berasal dari pertanaman BF;
- Pertanaman BPMT merupakan keturunan kedua dari PIT;
- BPMT dapat terdiri lebih dari satu jenis yang masing-masing jenis dapat lebih dari satu varietas.  BPMT diatur dalam sub blok jenis dan sub-sub blok varietas;
- Budidaya pada BPMT disesuaikan dengan rekomendasi masing-masing varietas, kecuali jarak tanamnya;
- Jarak tanam bisa dirapatkan, karena pertanaman dalam BPMT hanya berfungsi sebagai penghasil mata tempel/sambung bukan untuk produksi;
- Kebenaran varietas yang ditanam dalam BPMT ditunjukkan atas label yang dikeluarkan oleh lembaga/instansi yang menangani Pengawasan dan Sertifikasi Benih setempat sesuai dengan keberadaan BF, serta diawasi oleh lembaga/instansi tersebut;
- Mata tempel/sambung yang dihasilkan BPMT diberi label         berwarna ungu yang dikeluarkan lembaga/instansi yang menangani Pengawasan dan Sertifikasi Benih setempat sesuai dengan keberadaan BPMT dengan kode sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Blok Perbanyakan Benih (BPB)
- Merupakan perbanyakan benih buah-buahan yang mata tempel/sambungnya hanya berasal dari pertanaman BPMT;
- Tanaman BPB merupakan keturunan kedua dari BF atau keturunan ketiga dari PIT;
- BPB dapat terdiri dari lebih satu jenis dan masing-masing jenis dapat lebih dari satu varietas, dan diatur dalam sub blok jenis dan sub-sub blok varietas.  Perlakuan  budidaya dilakukan secara optimal, bisa di tanah atau polybag;
- Semua benih yang berasal dari BPB diberi label biru yang dikeluarkan lembaga/instansi yang menangani Pengawasan dan Sertifikasi Benih setempat, dengan kode sesuai ketentuan yang berlaku;
- BPB tidak digunakan untuk menghasilkan mata tempel, melainkan  benih siap salur. Dengan perbanyakan benih sistem klonal pada buah-buahan memberikan jaminan  kepada konsumen akan kebenaran varietas dan mutu benih serta menjaga agar    produksi buah-buahan dapat memenuhi standar mutu, baik untuk ekspor maupun kebutuhan dalam negeri.